
Analisis Dengan Beban Gempa
Studi ini mengkaji pengaruh beban gempa menggunakan pendekatan pseudo-static.
Analisis Lereng Kering dengan Penambahan Beban Gempa
Pada kondisi lereng kering dengan penerapan beban gempa secara pseudo-static, diperoleh faktor keamanan sebesar 4,636. Nilai ini lebih rendah dibandingkan kondisi statis tanpa gempa, namun masih menunjukkan tingkat kestabilan yang tinggi. Beban gempa yang diterapkan yaitu 0,025g sesuai perhitungan pada bagian Kondisi Umum Lereng.
Pengaruh beban gempa pada lereng kering relatif kecil karena tidak adanya tekanan air pori yang dapat menurunkan kuat geser tanah. Seluruh kekuatan geser efektif masih didominasi oleh kohesi dan sudut geser dalam material tanah. Selain itu, geometri lereng yang landai dan parameter material yang kuat membuat respon lereng terhadap beban gempa tetap stabil.

Analisis Lereng Jenuh dengan Penambahan Beban Gempa
Pada kondisi lereng jenuh dengan gempa, diperoleh faktor keamanan sebesar 4,632, sedikit lebih rendah dibandingkan kondisi kering. Penurunan ini disebabkan oleh adanya tekanan air pori (pore pressure) yang mengurangi tegangan normal efektif pada bidang gelincir, sehingga daya dukung geser tanah menurun.
Namun, selisih nilai FK yang kecil (sekitar 0,004) menunjukkan bahwa muka air tanah berada cukup dalam. Dengan demikian, pengaruh kejenuhan terhadap stabilitas masih terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan air pori bertambah, lereng masih berada dalam kondisi aman terhadap beban gempa. Namun, perlu diingat bahwa hasil ini diperoleh dari pendekatan pseudo-static, sehingga tidak mencerminkan potensi deformasi permanen yang bisa terjadi selama gempa aktual.
Untuk kondisi di lapangan, apabila muka air tanah naik secara musiman atau akibat hujan intensif, stabilitas lereng dapat menurun lebih signifikan, sehingga pemantauan muka air dan pengendalian drainase tetap menjadi aspek penting dalam pengelolaan lereng.
