top of page

Kondisi Umum Lereng

Informasi kondisi lereng menjadi dasar penting dalam analisis.

Profil Lereng

Profil lereng yang dipilih adalah penampang lereng pada bagian utara area PLTS di Sepaku, Kalimantan Timur, yang ditarik searah Utara-Selatan. Profil lereng ini dipilih berdasarkan ketersediaan data laboratorium terhadap sampel yang diambil beserta kedekatan jaraknya dengan titik bor, dimana terdapat Bor BH-04 sedalam 30 meter pada bagian utara lereng. Meskipun begitu, data yang tersedia masih cukup terbatas sehingga perlu diasumsikan beberapa hal.


Profil lereng
Profil lereng

Hasil penampang lereng menunjukkan profil lereng memiliki sudut yang relatif landai dengan sudut keseluruhan sekitar 11°. Pada bagian atas lereng cenderung lebih curam dengan sudut berkisar 11° - 21°.


Material Lereng

Jenis material (lapisan) pengisi lereng akan didasarkan pada data hasil pengeboran BH-04 dimana pada kedalaman 0 - 3 meter adalah lempung-lanauan serta pada 3 - 30 meter adalah batulempung-lanauan. Penggambaran lapisan di bawah permukaan lereng juga digunakan asumsi berdasarkan data permukaan yang ada. Data permukaan menyebutkan bahwa lapisan di area tersebut secara umum berarah baratlaut – tenggara dengan dip lapisan berkisar 10⁰-18⁰. Maka dari itu, penggambaran lapisan pada lereng akan mengikuti arah baratlaut – tenggara dengan kemiringan lapisan sekitar 7 - 8⁰.

 

Model material yang akan digunakan untuk material lempung-lanauan yaitu Mohr-Coulomb, sedangkan batulempung-lanauan menggunakan model material Hoek-Brown. Parameter keteknikan untuk material lempung-lanauan diambil dari data laboratorium uji berat isi dan triaksial. Untuk parameter pada batulempung-lanauan, sebagian besar diasumsikan karena keterbatasan data. Berat isi batulempung-lanauan, diasumsikan nilai 22,56 kN/m3. Nilai GSI 50 diasumsikan untuk batulempung yang cukup terganggu, memiliki lapisan batupasir, dengan kondisi permukaan yang baik. Nilai UCS 36,96 MPa didapatkan dari data point load, konstanta intak batuan mi diambil 5 berdasarkan Marinos & Hoek (2000) dimana untuk batulempung nilainya adalah 4 ± 2, sedangkan disturbance factor 0,7 didasarkan pada Hoek et al. (2002) untuk metode ekskavasi mekanik.

 

Parameter material tanah lempung-lanauan

No.

Parameter

Simbol & Satuan

Nilai

Sumber

1.

Berat Isi

ϒ (kN/m3)

20,21

Data Laboratorium

2.

Kohesi

C (kPa)

49,43

Data Laboratorium

3.

Sudut Geser Dalam

Φ (…°)

18,82

Data Laboratorium

Parameter material batulempung-lanauan

No.

Parameter

Simbol & Satuan

Nilai

Sumber

1.

Berat Isi

ϒ (kN/m3)

22,56

Asumsi

2.

GSI

 

50

Asumsi

3.

UCS

MPa

36,96

Data point load

4.

Konstanta Intak Batuan

mi

5

Marinos & Hoek (2000)

5.

Disturbance Factor

D

0,7

Asumsi berdasarkan

Hoek et al. (2002)


Kegempaan

Terdapat beberapa skenario yang dianalisis pada penampang lereng. Awalnya lereng akan dihitung nilai faktor keamanannya pada kondisi kering, setelah itu akan dilakukan penggambaran piezometric line untuk melihat perbedaan nilai FK. Selain itu, analisis untuk kondisi pseudo-static dilakukan dengan penambahan beban gempa. Nilai beban gempa ini didapatkan dari setengah nilai percepatan tanah puncak (PGA) berdasarkan SNI 8460 : 2017 (Badan Standardisasi Nasional, 2017). Nilai PGA didapatkan dari Peta Gempa tahun 2017 untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun (Pusat Studi Gempa Nasional, 2017). Berdasarkan peta tersebut, didapatkan bahwa PGA di daerah penelitian yaitu kurang dari 0,05g. Pada penelitian ini, akan diterapkan PGA sebesar 0,05g untuk mengetahui kondisi terburuknya, sehingga koefisien gempa horizontalnya menjadi 0,025g.


Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 (Pusat Studi Gempa Nasional, 2017)
Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 (Pusat Studi Gempa Nasional, 2017)

Muka Air Tanah

Pada analisis ini, penggambaran piezometric line diasumsikan berdasarkan hasil data pengeboran Bor BH-04, di mana muka air tanah (groundwater level) pada titik tersebut berada pada kedalaman sekitar 10 meter dari permukaan tanah. Garis piezometrik tersebut kemudian diinterpolasi mengikuti kontur lereng untuk mewakili kondisi muka air tanah rata-rata pada area analisis.


Asumsi ini digunakan karena tidak terdapat data pengukuran langsung di lapangan. Selain itu, posisi garis piezometrik ini menjadi dasar dalam pengaturan parameter hidrostatik pada simulasi GeoStudio Slope/W, terutama untuk menentukan pengaruh tekanan air pori terhadap gaya penahan dan gaya penggerak pada massa tanah di bawah permukaan lereng.


bottom of page