
Geometri lereng yang telah dibuat, dapat diisi dengan beberapa layer material tanah/batuan. Parameter dalam material yang akan di-assign dapat didefinisikan dengan Define > Materials.

Akan muncul kotak dialog yang berisi berbagai tab, lalu isi sesuai model material dan parameter yang dimiliki. Pada tutorial ini akan dicontohkan penggunaan model material Mohr-Coulomb.

Tab Basic digunakan untuk mendefinisikan parameter dasar material, seperti berat isi (unit weight), sudut geser dalam (friction angle), dan kohesi (cohesion) untuk model material Mohr-Coulomb. Tab Suction digunakan untuk memasukkan kekuatan isapan (suction strength) di zona tak jenuh (unsaturated zone). Secara default, kekuatan isapan ini tidak dimasukkan dalam analisis. Tab R Envelope digunakan untuk mendefinisikan parameter R-cohesion dan R-friction angle, dan hanya diperlukan dalam analisis Staged Rapid Drawdown atau Staged Pseudo-Static, sesuai dengan pendekatan dari Duncan et al. (1990). Tab Liquefaction hanya dibutuhkan dalam analisis kestabilan tegangan menggunakan metode elemen hingga (FE Stress Stability). Terakhir, Tab Advanced digunakan secara opsional untuk menyesuaikan berat isi material di zona tak jenuh menggunakan tiga pendekatan berbeda. Fitur ini berguna ketika ingin memodelkan variasi berat jenis akibat perubahan kadar air.
Beberapa model material yang paling sering digunakan dalam analisis stabilitas lereng (Seequent, 2025):
Mohr-Coulomb
Model material ini umum untuk menghitung kekuatan geser dalam analisis stabilitas lereng, berdasarkan hukum kegagalan Mohr-Coulomb. Model ini merupakan model kekuatan tegangan efektif yang mempertimbangkan gaya geser akibat friksi dan kohesi.
Spatial Mohr-Coulomb
Model ini digunakan untuk menangkap keragaman spasial dalam parameter tanah seperti berat isi, kohesi, dan/atau sudut geser dalam. Model ini berguna jika ingin mempertimbangkan variasi properti tanah secara horizontal maupun vertikal.
High Strength
Model ini digunakan untuk menyaring bidang longsor yang melewati material berkekuatan tinggi dan kaku, seperti dinding beton. Model ini hanya membutuhkan nilai berat isi, karena bidang longsor dianggap tidak dapat berkembang di dalamnya.
Bedrock (Impenetrable)
Model ini digunakan untuk memaksa bidang longsor melewati kontak antara lapisan kuat dan lapisan lemah, misalnya untuk memodelkan kegagalan retrogresif pada bidang geser lemah di batuan.
Undrained
Digunakan untuk kondisi pembebanan tidak terdrainase, di mana kekuatan tanah direpresentasikan oleh nilai konstan Su (undrained shear strength).
Anisotropic Strength
Model Anisotropic Strength dan Anisotropic Function digunakan untuk memodelkan anisotropi kekuatan pada tanah maupun batuan, yaitu kondisi di mana kekuatan geser tergantung pada arah bidang geser relatif terhadap orientasi struktur tanah/batuan.
Shear-Normal
Model ini merupakan model material generalisasi di mana kekuatan tanah didefinisikan sebagai fungsi dari tegangan efektif (effective stress).
Hoek-Brown dan Material Batuan Lainnya
Model seperti Hoek-Brown, Barton & Choubey, Miller, serta Generalized Hoek-Brown digunakan untuk material batuan dan memperhitungkan kurva envelope kekuatan non-linier. Model ini biasanya diimplementasikan menggunakan fungsi shear-normal.
SHANSEP (Stress History and Normalized Soil Engineering Property)
Model ini digunakan untuk memodelkan kekuatan geser undrained sebagai fungsi dari tegangan efektif. Model ini cocok untuk tanah lempung yang mengalami overconsolidation atau perubahan struktur akibat tekanan historis.
Compound Strength
Model Compound Strength sangat ideal untuk memodelkan variasi kekuatan bergantung tegangan (stress-dependent strength variability) yang umum dijumpai pada batuan retak (fractured/jointed rock) atau tanah berlapis (stratified soils).
Untuk meng-assign material pada region lereng, dapat dilakukan dengan Draw > Materials atau klik shortcut. Pengguna dapat memilih material apa yang akan di-assign untuk lereng ataupun menghapus material yang telah di-assign melalui kotak dialog yang muncul.

